1. Michael Jackson, Damai di Jalan Islam
Michael Jackson menjadi selebritas dunia yang mencari kedamaian dengan Islam. Setidaknya, tiga tahun lamanya Jackson mencari jati dirinya sebelum memutuskan memeluk Islam. Panorama, sebuah harian berbahasa Arab-Israel, tiga tahun lalu, sudah melaporkan Raja Pop itu telah meninggalkan Jehovah's Witness, sebuah aliran pada agama Kristen, dan beralih menjadi muslim. "Penyanyi itu menyatakan dia memutuskan pindah ke Islam karena yakin, itulah agama yang paling mendekati keyakinan pribadinya," begitu tulis Panorama. Kapan persisnya Jackson memeluk Islam? Tak banyak yang tahu. Yang pasti, Jumat 20 November 2008, penyanyi berusia 50 tahun itu menjalani proses pengislaman di rumah seorang sahabatnya di Los Angeles. Dia duduk di lantai, mengenakan peci kecil, dibimbing seorang imam, mengucapkan kalimat syahadat di rumah Steve Porcaro, sahabatnya yang jadi komposer musik albumnya, Thriller. "Seorang imam didatangkan dari mesjid. Michael kemudian mengucapkan syahadat yang merupakan pernyataan keyakinan seorang muslim," kata seorang sumber. Tapi, secara formal, Jackson sebenarnya sudah bergabung dengan Nation of Islam pada 17 Desember 2003. Nation of Islam adalah sebuah pergerakan Muslim kulit hitam di AS yang dibesarkan Malcolm X. Siapa yang berpengaruh dalam proses keislaman Mikhail, banyak versi beredar. Dia menyebut tersentuh dengan pencipta lagu asal Kanada, David Wharnsby dan produser Phillip Bubal. Keduanyalah yang mendekati Jackson saat 'ketahanan' dirinya mulai goyah. Tapi, tak pula bisa dipungkiri pengaruh kakaknya, Jermaine Jackson yang sudah menjadi Muslim sejak 1989. "Ketika saya pulang dari Mekah, saya membawakannya banyak buku. Dia banyak bertanya tentang agama saya. Saya katakan, inilah (agama) paling damai dan indah," kata Jermaine. Tapi, yang tak kalah berperannya adalah kedamaian yang diterima Jackson sejak dia memiliki rumah di Bahrain, sebuah kerajaan kepulauan di kawasan Teluk. Dia terkesima dengan apresiasi hangat masyarakat Bahrain, meski kala itu, sebagai pemeluk Kristen, dia jadi minoritas di negara tersebut. Karena itu pula, Jackson tak segan-segan mendermakan hartanya. Dia memberikan infak untuk sebuah mesjid di Manama, ibukota Bahrain. Dia pula yang mensupervisi guru-guru bahasa Inggris yang didatangkan dari AS untuk memberi pelajaran di madrasah di komplek mesjid tersebut. Jackson, sejatinya, bukan selebritas papan atas dunia yang meninggalkan keyakinan lamanya dan beralih menjadi Muslim. Kakaknya, Jermaine LaJaune Jackson, memeluk Islam sejak 1989. Dia tinggal di Los Angeles dan Bahrain. Empat tahun lalu, dia menikah dengan Halima Rashid. Di kalangan musisi, sejumlah nama juga akhirnya mengucapkan syahadat. Mereka antara lain John Coltrane (pencipta dan saksoponis jazz), Art Blakey (musisi jazz), dan tentu saja Cat Stevens (penyanyi rock Inggris). Di kalangan olahraga, yang paling banyak adalah petinju dan bintang basket. Paling terkenal tentu Muhammad Ali, mantan juara dunia yang dulu bernama Cassius Clay. lihat_lengkap
Ditulis oleh : Halimah, Purwodadi -- 25 Februari 2009 Jam 15:14:30
Forum Agama Islam -- Jumlah Tanggapan = 7 Jumlah klik = 10950 jumlah tayang = 93533
2. Seandainya Dedy Miswar Calon Presidennya, akan saya pilih !
Kenapa kok partai2 itu nggak melirik aktor Dedy Miswar untuk dijadikan Capres. Atau jangan2 sebenarnya sudah ditawari, tapi dianya nggak mau, apa begitu ? Jujur saja, sekarang ini saya nggak punya pilihan soal Capresnya (Calon Presiden) untuk yang akan datang. Kalau di Pemilu 2004, saat itu saya punya harapan ke Amien Rais. Ternyata beliau kalah. Kalau sekarang, saya nggak punya pilihan, termasuk ke Amien Rais juga nggak lagi. Lebih2 ke Megawati Sukarno Putri. Kalau ke Soesilo Bambang Yudoyono (SBY), juga begitu, kesan saya beliau itu kurang mampu mengambil inisiatif (mengambil resiko), akibatnya memang kurang tegas dan kurang keras. Jadinya agak susah ngeberantas korupsi. Kalau Gus Dur (Abdurahman Wahid), hehehe ..., beliau sich sebaiknya seperti sekarang ini, nggak ikut2 lagi di partai, dsb-nya. Sehingga posisinya selalu netral kayak dulu sebelum ada PKB, nama Gus Dur justru sangat terhormat, sekarang namanya jadi agak kacau. Kalau ke Sultan Hamengkubuwono X, saya juga kurang respek. Maksud saya, seandainya Yogyakarta itu maju pesat, nah mungkin emang sip. Tapi sekarang ini perkembangan Yogya khan biasa2 saja. Kalau soal ide Beliau tentang "Restorasi" memang lumayan menarik, tapi itu khan baru teoritis. Seandainya bisa dipraktekkan, wah emang bakalan sip. Kalau ke Prabowo Subiyakto, wah mungkin emang rada menjanjikan. Karena dari segi pengetahuan ekonomi dia punya itu (anaknya begawan ekonomi, Sumitro). Kalau soal pemahaman/pengalaman terhadap pengembangan manajemen sistem, beliau juga sip. Seingat saya Kopasus dan Kostrad itu berkembang pesat saat dipegang Prabowo. Tapi ya itu tadi, apa idealismenya masih dimiliki. Kalau ke Wiranto, mungkin sama dengan Prabowo. Bedanya mungkin, Prabowo lebih unggul dalam pengetahuan dan pengalaman di bidang finansial (perekonomian). Jadi siapa enaknya ? Rasanya nggak ada yang pas. Karena menurut saya Calon Presiden itu yang nomor 1 harus memiliki idealisme sangat tinggi. Maksud saya, yang ada di pikiran Capres itu benar2 murni ingin menyejahterakan banyak orang (Rakyat Indonesia), sehingga nggak peduli terhadap pandangan masyarakat. Yang penting niatnya tulus untuk orang lain, dsb-nya. Eh ... saat saya coba mengevaluasi beberapa tokoh, kok muncul nama "Deddy Miswar" hehehe. Kayaknya dia itu bisa tegas, mengutamakan kualitas, marketing juga jago, ngomong juga bisa, dsb. Yang pasti dia itu khan berada di 3 posisi, sebagai pemain, sutradara, maupun produser, dan sukses. Nah Presiden itu khan mustinya bisa berperan di 3 posisi itu. Jadi bukan kayak Boss aja ( produser/sutradara), tapi juga sekaligus pemain yang otomatis nggak tebar pesona. Sebenarnya, ada yang memenuhi syarat utama ini, yaitu Yusuf Kalla. Beliau nggak peduli soal citra/pesona. Nah orang seperti ini justru tulus ikhlas mengemban tugas untuk mensejahterakan banyak orang. Cuman sayangnya sebagian besar elite politik kita bukan dari swasta, tapi dari pegawai negeri, yang mayoritas mentalnya tidak mandiri (berbeda dengan pegawai swasta maupun wiraswasta). Dan cenderung melihat pedagang dengan sebelah mata. Sehingga elite politik kita, cenderung memandang Yusuf Kalla sebagai pedagang, padahal disitulah mental yang harusnya ada bagi seorang Presiden (yaitu mental swasta). Gimana nich kesimpulannya ? Apa anda juga setuju dengan pendapat saya ? Ataukah anda punya pilihan capres yang lainnya ? Ini serius lho ... hehehe. lihat_lengkap
Ditulis oleh : Yusuf Anton, Karawang -- 5 Februari 2009 Jam 12:11:08
Forum Politik -- Jumlah Tanggapan = 1 Jumlah klik = 10408 jumlah tayang = 92479
|